Bolehkah Aku Menjadi Lisa?

Gunawan Adib Achmadi
Jumat, 03 Januari 2025

Usai jadi narasumber dan menandatangani novel barunya permintaan penggemar, Andini langsung bergegas meninggalkan tempat. Suasana yang semula riuh perlahan berubah sunyi. Sambil berjalan, matanya menyapu deretan kursi yang kini kosong.

"Maaf, Andini. Novelku belum ditandatangani." Suara itu datang dari arah belakang. Andini menghentikan langkahnya, sedikit terkejut. Ia menoleh ke belakang dan melihat Ardi, sosok yang Ia  cari, sudah berdiri dengan senyum tipis sambil menyodorkan sebuah novel dengan kedua tangannya.

"Kamu? Dari mana, kucari tak ada?" tanya Andini, sambil menerima novel dari tangan Ardi. Tatapannya menyiratkan rasa lega.

"Jangan ditenteng begitu. Aku minta tanda tanganmu," protes Ardi tanpa menanggapi pertanyaan Andini. Andini tersenyum kecil, menahan tawa. "Kita ke kantin sebelah, yuk. Perutku sudah lapar. Temani aku makan siang," katanya, mengalihkan topik.

***

Ardi hanya bisa pasrah, mengikuti langkah Andini menuju kantin di sebelah gedung. Percakapan kecil dan derai tawa  mengiringi perjalanan dua sahabat penulis keluar ruang acara. Suasana kantin tak terlalu ramai. Andini memilih duduk  pojok dekat taman. Dari tempat itu, halaman gedung yang dipenuhi rindang pepohonan terlihat teduh dan enak dipandang.

"Aku tak akan tanda tangan buatmu," ujar Andini memulai pembicaraan. Tatapannya tenang ke arah Ardi yang tengah membenahi posisi duduknya.

"Kenapa?"  tanya Ardi dengan kening berkerut mendengar perkataan Andini.

"Sepanjang kamu masih menulis cerpen atau novel, aku tak akan memenuhi permintaan tanda tanganmu," kata Andini sambil menyodorkan kembali novel Ardi.

"Eh, kenapa begitu? Apa salahku?" tanya Ardi penuh penasaran.

"Karena tulisanmu," jawab Andini tegas, "...semua karyaku jadi terasa tak berbobot"

***

Ardi menghela napas panjang, sambil menggelengkan kepala perlahan. "Aku tak paham, Andini. Benar-benar tak paham maksudmu," katanya.

"Di mataku," Andini mulai berbicara lagi, suaranya sedikit melembut, "harusnya kamu yang tadi duduk di kursi narasumber. Kalau itu terjadi, aku akan jadi peserta yang paling banyak bertanya."

Ardi tersenyum kecil, tetapi sorot matanya menampakkan keseriusan. "Faktanya," katanya, "novelmu yang sering meledak. Ada banyak penggemarmu. Konon kudengar akan jadi film lagi. Karyamu diterima publik, Andini. Aku iri sekaligus bangga."

Andini mengangkat bahu, seolah pujian itu tidak berarti banyak baginya. "Itu soal industri, Ardi. Bukan urusan mutu. Banyak film bagus tak laku. Tak mengikuti tuntutan  pasar," ujarnya santai sambil meraih minuman pesanannya.

"Kamu meragukan sendiri karyamu, di saat banyak orang percaya?" tanya Ardi agak bingung memahami jalan pikiran sahabatnya.

***

Dalam hatinya, Ardi sangat mengagumi sahabatnya itu. Andini sosok penulis produktif. Banyak karyanya ditunggu publik. Diantara penulis sastra, Andini adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karyanya yang menarik, tapi juga pribadinya, kecerdasannya, cara bertuturnya yang fasih dan simpatik. Ardi merasa bersyukur bisa bersahabat dengan Andini meski banyak perjumpaan itu hanya di forum-forum sastra. Mengajak ke kantin itu cara Andini dari dulu untuk bisa ngobrol lebih santai dan leluasa.

"Aku tak ragu tulisanku," jawab Andini, meletakkan gelasnya. "Tapi aku bisa menilai karyaku sendiri, apalagi jika dibandingkan dengan karyamu."

Pesanan mereka akhirnya tiba, mengisi meja dengan aroma lezat menusuk hidung. Andini langsung menikmati bakso pesanannya, sedang Ardi membiarkan soto pesanannya yang tampak masih panas.

***

"Kamu tahu, Ardi," kata Andini disela santap makannya, "tak ada tulisan yang kubaca lebih dari sekali kecuali tulisanmu. Banyak hal aku tersentuh. Perenunganmu sangat dalam di setiap tulisanmu. Alam pikirmu melampaui umumnya orang."

Ardi menatapnya dengan mata penuh perhatian. "Oh, ya?" tanyanya, mengisyaratkan rasa ingin tahu lebih dalam.

"Kamu menawarkan alur dan konflik cerita yang unik," lanjut Andini, sambil menyeruput kuah baksonya.

"Unik bagaimana?"  Ardi menarik mangkok soto pesanannya sambil menanti jawaban Andini dengan muka serius.

"Tulisanmu itu bisa menari-nari pada psikologi manusia sehat" jawab Andini. "Semua tulisanmu ingin mengatakan, memilih hidup sehat, yang selalu diliputi perasaan bahagia itu indah dan bisa diwujudkan. Kamu seperti sedang menawarkan mindset baru kehidupan lewat tulisan."

"Utopis ya?" tanya Ardi seperti meminta penilaian Andini.

"Umumnya orang, mungkin memandang begitu. Bahkan khayal.  Tapi itu pandangan masyarakat sakit. Aku merasa saat ini psikologi masyarakat memang sakit. Toksik"

***

Ardi terdiam sejenak. Ia menikmati suap demi suap soto pesannya yang sepertinya pas buat lidahnya.

"Kamu merasakan begitu?" tanya Ardi mencoba mengulik lebih dalam pandangan Andini.

"Ya, setelah aku membaca tulisan-tulisanmu," jawab Andini penuh keyakinan.

"Apa itu berarti kamu sedang menceritakan kehidupan toksik?"

"Persis. Karena itu tulisanku laku. Aku mewadahi alam pikir mereka sehingga tulisanku bisa diterima"

"Bagaimana kamu menjelaskan itu toksik?"

"Ya semua konflik-konflik seputar percintaan dan keluarga dalam tulisanku itu sebenarnya bukan seharusnya permasalahan. Itu kekanakan. Kamu mengatakan itu kekerdilan jiwa,"

"Aku tak bilang begitu" Ardi mencoba menepis sambil mengangkat bahunya.

"Tapi senada, kan? persisnya kamu bilang kerapuhan. Kadang kamu gunakan diksi keringkihan. Aku ingat betul kata itu"

***

Kali ini Ardi tak bisa berkelit. Kata itu memang Ia tulis dalam novel terbarunya.

"Kamu setuju?" tanya Ardi sambil menatap Andini yang kembali menikmati bakso,  makanan favoritnya.

"Sangat setuju, sahut Andini, ".. banyak problem, keluhan, konflik, bahkan orang alami gangguan jiwa sampai  bunuh diri jika ditelusuri adalah cerminan rapuhnya mental dan rendahnya kesehatan jiwa masyarakat kita"

Ardi tersenyum kecil mendengar jawaban kritis Andini. Ia seperti tahu betul apa yang selama ini Ardi rasakan. Semua yang dikatakan Andini bahkan malampaui apa yang dipikirkan.

"Tapi kamu juga  menyelipkan pesan-pesan yang menurutku berbobot dan inspirarif," ujar Ardi memuji tulisan Andini.

***

Andini tak langsung menjawab. Ia raih gelas es jeruk dan meminumnya dengan sedotan.

"Semua penulis akan begitu, Ardi.  Itu bagian dari edukasi penulis," jawab Andini usai minum beberapa teguk.

 "Baguskan?" lagi-lagi Ardi berusaha memuji tulisan Andi yang menurutnya bagus.

"Mungkin bagus. Tapi pada tulisanmu, semua inspiratif dan sarat pesan dari awal hingga akhir tulisan" Andini tak mau kalah  memberi pujian balik pada Ardi.

"Hiperbol, kamu," kata Ardi menanggapi pujian Andini.

"Itu yang kurasakan. Pembaca bebas menafsirkan dengan perasaan dan pikirannya," jawab Andini tegas.

***

Ardi seperti tak berdaya menanggapi komentar-komentar Andini yang begitu  tangkas. Seperti ujian skripsi, Andini sangat menguasai materi.  Ardi coba mengalihkan topik pembicaraan.

"Terus apa hubungannya kamu tak mau tandatangani novel punyaku?" tanya Ardi datar sambil meraih es teh pesanannya dan perlahan meminumnya

"Aku merasa tak pantas saja. Nanti kalau aku bisa menulis sepertimu, aku penuhi permintaanmu" Ardi menggelengkan kepalanya. Pujian Andini pada tulisannya seolah tak berkesudahan.

"Itu artinya tulisanmu akan tidak selaku sekarang,"

"Laku nomer sekian. Bagi penulis, kepuasan batin lebih penting. Aku justru ingin mengejar kebahagiaan seperti dalam tulisan-tulisanmu. Aku ingin menulis sepertikumu, syukur-syukur tulisanku tetap diterima publik"

"Semua tulisanku itu fiksi, Andini. Mungkin juga hanya harapan penulisnya. Bukan kenyataan," kata Ardi merendah.

***

Andini menggeser mangkok baksonya yang masih tersisa bihun. Sepertinya Ia menyudahi makan siangnya.

"Menurutku," kata Andini menatap  wajah Ardi yang seperti tak sabar menanti reaksinya. "..itu yang sedang kamu perjuangkan lewat tulisanmu. Aku merasakan itu, dan aku akan mengikuti jekakmu. "  sahut Andini cepat.

Ardi meletakkan sendoknya dan menggeser mangkok sotonya mengikuti Andini.

"Kenapa kamu jadi seperti mabuk tulisanku, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ardi dengan senyum kecilnya seperti tak percaya apa yang dikatakan Andini.

"Mungkin iya. Aku mabuk. Tapi mabuk yang satu ini halal dan toyib ," sahut Andini,

***

Tawa kecil menghias bibir Ardi mendengar jawaban jenaka Andini.

"Dan satu lagi.." ujar Andini menyambung ucapannya,

"...aku ingin seperti Lisa dalam novelmu, Menanti Senja,"

"Kenapa Lisa?" tanya Ardi sedikit terkejut sekaligus penasaran. Menanti Senja adalah novel barunya yang belum lama terbit.

"Sungguh bahagianya Lisa," kata Andini,

"..mendapatkan pasangan yang selalu memberi kejutan kebahagian sepanjang waktu. Sepertinya setiap jengkal perjalanan hidup menjadi sangat bermakna dan tak sia-sia"

"Lisa adalah perempuan beruntung," sambung Andini seperti sangat terkesan pada tokoh dalam Novel Adri,

"..karena Ia diposisikan begitu tinggi dan agung oleh lelaki yang dicintainya. Betapa bahagianya semua  perempuan didunia ditempatkan pada posisi itu"

"Sejauh itu kamu menghayati," tanya Ardi merasa haru.

"Itu mengapa aku tak sekali membaca tulisanmu. Aku sangat menghayati dan menikmati setiap membaca ulang," kata Andini dengan perasaan kagum yang mendalam.

***

Ardi tak bisa berkata-kata. Andini begitu menghayati tulisannya.

"Ardi," kata Andini pelan sambil menatap wajah Ardi dengan muka serius.

"Andai Nurman dalam tokoh tulisan itu adalah penulisnya, bolehkah aku ingin jadi Lisa dalam kehidupan itu? Ini harapan selaligus permintaan."

***

Ardi terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu meski ia berusaha tenang. Sama sekali Ia tak menyangka ujung pembicaraan Andini ke arah itu. Permintaan itu tampak diucapkan sungguh-sungguh meski disampaikan secara datar dan tenang.

"Itu mengapa kamu mencariku tadi?" tanya Ardi.

Andini hanya menjawab dengan anggukan disertai senyum manisnya.

Ardi kembali menghela napas panjang. Ditatapnya wajah Andini dalam-dalam seperti ada perkataan berat hendak disampaikan.

"Andini.." kata Ardi sambil tersenyum kecil disertai perasaan haru,

"Betapa baiknya Tuhan padaku. Saat kutulis novelku itu, jujur kukatakan,  yang kubayangkan Lisa itu adalah kamu. Sosok perempuan jelita yang penuh talenta, cerdas, rendah hati, periang. Setiap tutur kata dan senyumnya penuh pesona"

"Wouu..." seru Andini tersipu sambil meletakan dua tangannya ke pipi.

***

Andini tampak tersipu, tak mengira ia menjadi sosok imajinasi dalam karya Ardi.

"Itu mengapa aku tadi datang menemuimu dan berharap ketemu sosok dalam imajinasiku. Aku hanya berani sampai di situ. Tapi ternyata Tuhan memberiku lebih dari itu"

"Jadi, aku diijinkan jadi Lisa?" tanya Andini menegaskan pernyataan Ardi yang masih samar.

"Kata penulisnya begitu," jawab Ardi dengan senyum berseri.

Kedua sosok manusia itu saling pandang penuh arti.




Comments (0)

No Comment
You need to submit a comment to interact.
logo

Jl. Siwalan 2 No.1, RT 04 RW 07, Kraton, Tegal Barat, Kota Tegal
Whatsapp : +62 819-1152-4182|Kak Gendra
Email : office@spasicreative.space