Musim Dingin dan Disiplin: Sebuah Cermin Kolektif Bernama Seoul

Adjiemas Dian N
Senin, 23 Februari 2026

Korea Youth Summit 2026

Saya mendarat di Incheon International Airport dengan lintasan kesan: modern, pop teratur dan disiplin. Tak sebatas bangunan dan sistemnya, melainkan ruang yang dibangun oleh kesepakatan kolektif tentang keteraturan.

Saya berkesempatan mengikuti Program Pertukaran Budaya (Cultural Exchange Program) sebagai komite Korea Youth Summit 2026 dengan Tajuk “Living Culture Lasting Legacy”. Saya datang bersama tim berjumlah delapan orang. Selama kurang lebih 9 hari di Seoul, saya seperti dihadapkan pada sebuah buku besar yang berisi tentang bagaimana sebuah bangsa membangun dirinya dan bagaimana sebuah kota dirancang melalui kebijakan yang matang.

 

Permulaan: Belajar Membaca Kota

Kami singgah pertama kali di Gangseo-gu. Gangseo-gu menyambut kami dengan hembus angin musim dingin. Suhu siang hari berkisar antara 00 C hingga -50 C, dan malam bisa menyentuh -110 C. Hari pertama kami habiskan dengan berjalan kaki di sekitar Gangseo-gu, belajar membaca Naver Map, memahami sistem transportasi, dan berbelanja di CU (minimarket). Semakin kami melangkah semakin jelas kontrasnya dengan Indonesia: trotoar lebar dan benar-benar berfungsi, tidak tampak JPO (Jembatan Penyebrangan Orang) dan lebih mengutamakan Zebra Cross, membuat ruang publik terasa adil. Hal-hal yang tampak sederhana itu justru menjadi indikator paling jujur tentang kualitas kebijakan. Seoul dirancang di atas kesadaran dan proses kolektif yang panjang, dengan orientasi yang jelas pada kepentingan publik.

 

Metropolitan yang Bekerja dengan Efisien

Hari kedua kami mengunjungi Korea University untuk melihat dan merasakan secara langsung atmosfer pendidikan di sana. setelah itu, melanjutkan kunjungan ke tempat berikutnya yaitu kawasan Itaewon. Untuk ukuran kota metropolitan, Seoul terasa cukup lengang jika dibandingkan Jakarta. Namun, jumlah pejalan kaki sangat banyak, transportasi umum menjadi moda utama mobilitas kota dan bekerja cukup efisien. Kemacetan hanya terjadi di distrik tertentu, dan itu pun masih dalam batas yang rapi.

Pertanyaannya: Dengan nilai investasi yang besar, apakah IKN atau kota di Indonesia nantinya mampu menjadi metropolitan yang efisien menyamai Seoul atau ada hal lain yang sebenarnya lebih fundamental untuk dibandingkan?

Saya kira jawabannya ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Hari ketiga kami mengunjungi Marinabay Hotel & Resort untuk mengecek lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan simposium, lalu dilanjutkan ke Starfield Library, perpustakaan raksasa yang menakjubkan. Di sanalah saya mendapati fenomena yang sangat biasa dan sederhana tapi jarang saya temui di Indonesia: anak-anak kecil duduk membaca buku. Saya baru sadar, selama beberapa hari di Seoul, saya belum pernah melihat anak di bawah 10 tahun bermain gadget.

 

Malam yang Memutih di Bawah Langit Musim Dingin

Hari keempat kami jalan-jalan ke Han River untuk menikmati suasana sore hari yang estetik. Kami berfoto-foto hingga tak terasa waktu sudah cukup malam. Udara semakin dingin saat malam turun, kami sampai di penginapan sekitar pukul 11 malam. Beruntungnya kami, sekitar pukul 12 malam, salju mulai turun.

Rasa lelah hilang seketika. Kami kembali keluar, berdiri di bawah langit musim dingin, menyaksikan malam yang memutih dengan butiran salju yang jatuh. Sungguh momen kebersamaan yang sangat indah dan bermakna.

 

Disiplin sebagai Budaya: Tindakan membentuk Kebiasaan dan Kebiasaan membentuk Perilaku

Memasuki hari kelima hingga ketujuh, kami fokus pada kegiatan Korea Youth Summit 2026. Tim kami terbagi dua kelompok: kelompok satu menjemput peserta di bandara dan kelompok lainnya mengurus keperluan di lokasi acara. Semua berjalan sesuai rundown, tidak ada istilah “jam karet”. campus visit, city tour dan international symposium semuanya berjalan dengan baik.

Kami sempat mengunjungi Namsan Seoul Tower, belanja di Myeongdong. dan mengunjungi Kyobo Book Centre. saya melihat pola yang sama: hampir tidak ada disparitas antara kawasan pusat dan wilayah lainnya. Standar trotoar, transportasi, kebersihan, hingga fasilitas publik relatif konsisten. Kawasan yang bukan pusat bisnis tetap tertata, terhubung, dan terlayani dengan baik. Bahkan dalam hal kecil seperti merokok. Hampir tidak ada orang merokok sembarangan, mereka pergi ke smoking area. Satu batang rokok dihabiskan sekitar tiga hingga lima menit dan puntungnya tidak berserakan. Ini adalah bentuk kesadaran ruang publik yang luar biasa. Orang-orang sangat menghargai waktu dan ketepatan waktu sudah menjadi norma.

Hari ke-8 kami habiskan di Pasar Tradisional Namdaemun Market untuk belanja apa saja. Menjelang malam, kami kembali ke penginapan untuk berkemas, mempersiapkan diri menuju Incheon keesokan harinya.

 

Sebuah Refleksi

Sebagai orang Indonesia, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan. Saya merasa Korea Selatan adalah negara yang dibangun dengan fondasi ilmu pengetahuan, riset, dan orientasi pada kebutuhan rakyatnya. Saya tidak naif untuk meniadakan variabel kekuasaan tapi sejauh yang saya amati, politik tampak tunduk pada kesadaran kolektif dan kebutuhan nyata masyarakat.

Di Indonesia, kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, demografi yang besar. Namun sering kali pembangunan didasarkan pada kebijakan reaktif, tidak konsisten, dan terlalu dipengaruhi dinamika kekuasaan jangka pendek atau singkatnya tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Di Seoul, saya melihat bagaimana trotoar dirancang serius, transportasi umum terintegrasi, hak pejalan kaki dipenuhi, ruang publik yang inklusif. anak-anak membaca buku dan disiplin menjadi kebiasaan.

 

Akhir: Pulang membawa Kegelisahan dan Pertanyaan

Di hari terakhir, kami kembali ke Incheon untuk pulang. Bandara itu terasa berbeda dari saat pertama kali saya tiba. Kali ini bukan kesan tetapi filosofi di baliknya.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa kemajuan tidak lahir dari retorika besar, tetapi dari konsistensi dalam hal-hal kecil. Dari trotoar yang dihormati. Dari waktu yang dijaga. Dari anak-anak yang didorong membaca. Dari masyarakat yang sadar bahwa ruang publik adalah milik bersama.

Korea Youth Summit 2026 bukan hanya forum internasional bagi saya. Ia adalah kelas kehidupan. Dan Seoul, dengan musim dinginnya, telah menjadi guru yang mengajarkan saya satu hal penting: sebuah bangsa besar dibangun bukan hanya oleh pemimpinnya, tetapi dari meritokrasi yang mempertemukan peluang dengan talenta, menempatkan kompetensi di atas kekuasaan serta dari kebiasaan kolektif rakyatnya yang menjaga disiplin dan integritas.

Saya pulang ke Indonesia dengan membawa kegelisahan dan pertanyaan.



Comments (0)

No Comment
You need to submit a comment to interact.
logo

Jl. Siwalan 2 No.1, RT 04 RW 07, Kraton, Tegal Barat, Kota Tegal
Whatsapp : +62 819-1152-4182|Kak Gendra
Email : office@spasicreative.space