Pekerjaan Besar Menteri Kebudayaan

Gunawan Adib Achmadi
Minggu, 10 November 2024

Serah Terima Jabatan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Bapak Nadiem Anwar Makarim dilanjutkan penyerahan Memorandum Akhir Jabatan
(Jakarta, 21 Oktober 2024 | Foto Instagram @fadlizon)

Tulisan ini dibuat sebagai kontribusi pemikiran bagi kabinet baru, khususnya Menteri Kebudayaan. Tulisan ini juga merupakan ucapan selamat datang bagi Kementerian yang baru terbentuk. Dipisahkannya kebudayaan menjadi kementerian tersendiri menunjukkan bahwa ada masalah besar dalam kebudayaan yang perlu ditangani. Dalam konteks inilah tulisan ini dibuat.

Merujuk pada Pembukaan Undang-Undang Dasar alinea ketiga, disebutkan bahwa kemerdekaan adalah untuk kehidupan kebangsaan yang bebas. Sebagai bangsa merdeka, kita bebas menentukan nasib sendiri tanpa intervensi pihak lain dan bebas menentukan tujuan serta cara mencapainya.

Amanah konstitusi ini seharusnya mendorong kita untuk memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, sehingga kita bisa hidup mandiri dan eksis di antara bangsa lain dengan penuh martabat. Eksistensi sebagai bangsa merdeka tercermin dari identitas dan jati diri. Bangsa ini perlu merumuskan siapa dirinya, asal-usulnya, dan cita-citanya, yang hanya mungkin ditemukan melalui sejarah dan kebudayaannya.

Kemerdekaan berarti hidup dalam sejarah dan kebudayaan sendiri, dengan kebudayaan sebagai subjek yang membentuk kepribadian bangsa. Merdeka berarti berani merumuskan kepribadian diri dan berani menyesuaikan terhadap perubahan serta interaksi dengan bangsa lain tanpa kehilangan identitas.

Di sinilah masalahnya muncul. Ketahanan budaya kita saat ini rentan terhadap perubahan zaman. Pengaruh kuat budaya modern dalam berbagai aspek telah menggerus kebudayaan kita, bahkan sebagian telah rata dengan tanah. Cara pandang, ukuran, dan nilai-nilai baru melalui modernisasi telah menggeser tatanan lama. Apa yang dulu menjadi kebanggaan kita kini dianggap usang dan ketinggalan zaman. Tradisi dan warisan kebudayaan leluhur kita semakin tidak menarik dan mulai dilupakan.

Contoh sederhana, permainan tradisional yang dulu akrab bagi anak-anak kini nyaris hilang dan tak dikenali lagi. Kehidupan guyub dan gotong royong yang dulu erat dalam masyarakat perlahan memudar, digantikan oleh gaya hidup yang semakin individualistik.

Kesenian tradisional dan beragam tradisi yang dahulu “hidup” dalam masyarakat kini hanya tinggal kenangan. Budaya pop menguasai kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam seni budaya, tetapi juga dalam gaya hidup sehari-hari yang semakin materialistik dan hedonis. Generasi muda kini lebih terpengaruh oleh tren global daripada budaya sendiri.

Dalam skala sistem, pendidikan kita tidak mengacu pada kebudayaan nasional seperti yang diimpikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan kita kini menjadi bagian dari mesin besar industri. Sekolah adalah tempat mencetak tenaga kerja guna menjadi komponen yang menjadi kebutuhan industri. Kebudayaan bukan lagi menjadi ibu kandung dari sistem pendidikan, sehingga wajar jika generasi muda cenderung meninggalkan desa dan kebudayaan yang membesarkannya untuk menuju kota atau pusat industri. Urbanisasi pun semakin tak terhindarkan.

Dalam skala yang lebih besar, pembangunan kita berlandaskan pada ideologi developmentalisme, yaitu konsep pembangunan berbasis ekonomi yang bertujuan menuju masyarakat industri. Pembangunan kita tak dapat menghindar dari modernisasi dengan negara maju sebagai model. Ukuran keberhasilan pembangunan kita telah diseragamkan dengan standar global.

Saat ini, “kita” adalah manusia global dengan standar yang ditentukan dari luar, bukan dari sejarah dan budaya kita sendiri. Mengacu sepenuhnya pada pandangan global berisiko menghilangkan identitas dan jati diri bangsa. Sementara itu, menjadi diri sendiri dalam kehidupan global adalah pekerjaan besar yang membutuhkan usaha besar pula.

Tantangan terberat saat ini,  bukanlah sekadar menghidupkan budaya lama melalui upacara atau festival, tetapi menempatkan kebudayaan sebagai pusat nilai. Semua ukuran dalam menilai diri dan dunia luar harus berdasarkan standar dari dalam kebudayaan kita sendiri.

Inilah persoalan besar kebudayaan yang dihadapi bangsa ini dalam menjalani hidup merdeka yang mengacu pada konstitusi. Inilah pekerjaan rumah seluruh warga bangsa kita, dan tantangan besar bagi Menteri Kebudayaan yang baru.



Comments (1)

Profile Picture of Eder Dionízio

Adjiemas Matijevic

Kurang lebih Kebudayaan sebagai martabat bangsa, tapi kita orang sebagai bangsa gagal merumuskan pembangunan menggunakan ukuran yang ada pada nilai-nilai kebudayaan kita sendiri. Tentang permasalahan yang muncul terkait bagaimana menghadirkan kembali nilai-nilai kebudayaan yang hilang, sepertinya perlu penjelasan yang sedikit teknis tentang langkah strategis dan taktis yang bisa ditawarkan kepada Pak Menteri. Misalkan bagaimana implementasi framework Recognisi -> Recovery -> Reposisi -> Transformasi nilai-nilai Kebudayaan di Kementerian Kebudayaan, agar saya dan Gen Z yang lain merasa relate dengan persoalan kebudayaan Indonesia

Senin, 11 November 2024
You need to submit a comment to interact.
logo

Jl. Siwalan 2 No.1, RT 04 RW 07, Kraton, Tegal Barat, Kota Tegal
Whatsapp : +62 819-1152-4182|Kak Gendra
Email : office@spasicreative.space