Ruang Kreatif: Titik Temu Kolaborasi Berkelanjutan

Gendra Wisnu Buana
Jumat, 18 Oktober 2024

Manusia memiliki kecenderungan untuk berkumpul, hidup bermasyarakat, dan berinteraksi satu sama lain. Kehadiran ruang digital (dunia maya) di era digital semakin memudahkan masyarakat untuk membangun koneksi. Namun, apakah kita benar-benar terhubung satu sama lain di dalam dunia maya? Bagaimana pola relasi dan komunikasi yang telah termediasi (mediated communication) oleh teknologi? Dan bagaimana cara kita hidup bermasyarakat dan mengenal lingkungan sekitar di era digital seperti ini?

Deretan pertanyaan tersebut masih dapat ditambah lagi hingga kita menemukan celah rupa-rupanya ruang fisik/tempat tinggal/lingkungan sekitar tidak pernah benar-benar dapat tergantikan oleh ruang digital. Ada spirit yang tumbuh dalam bermasyarakat ketika bertatap muka dan berinteraksi secara langsung. Masyarakat kita yang dikenal komunal menegaskan bahwa individu adalah bagian dari masyarakat yang lebih besar. Pergeseran relasi komunal menuju non-komunal semakin kentara seiring pemukiman di pedesaan berubah meniru gaya perkotaan. Ruang digital semakin memperparah jiwa individu yang tercerabut sebagai makhluk sosial, padahal relasi komunal lebih sehat secara psikologis dibanding relasi non-komunal atau yang bisa disebut pula relasi pertukaran sosial (Clark & Milis, 1979).

Kesadaran akan ruang untuk bertemu, berkumpul, hingga menyelesaikan masalah bersama membuat kami tergerak untuk menumbuhkan ruang bersama yang bernama Spasi Creative Space di Kota Tegal, Jawa Tengah. Ruang kreatif (creative space) menjadi tempat untuk menyatukan komunitas maupun orang-orang kreatif dan memberi ruang serta dukungan di sektor ekonomi kreatif demi pemajuan kebudayaan. Spasi Creative Space sebagai ruang bersama untuk berkolaborasi, bereksplorasi, dan berkreasi. Menjadi katalisator bagi para kreator untuk mengembangkan karya kreatif dan meningkatkan nilai tambah ekonomi kreatif serta berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur kebudayaan di Kota Tegal. 

Kami meyakini ruang kreatif dapat mengembalikan relasi komunal dan kekuatan gotong royong yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Ruang kreatif menjadi salah satu pintu untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang berbasis kebudayaan. Di bidang kebudayaan kita bisa menemukan basis bagi kolaborasi yang berkelanjutan ketika yang dikedepankan bukan kepentingan yang sesaat, tapi kepentingan manusia secara keseluruhan (Farid, 2022). 

Kebudayaan sebagai ruang untuk semua

Pengelolaan ruang kreatif tidak terlepas dari perencanaan, strategi, dan aksi. Namun, pendekatan yang diambil cenderung fleksibel dan cair. Tidak selalu top-down karena setiap orang berhak menawarkan gagasan dan ide untuk kemudian direalisasikan. Pendekatan tersebut juga mesti peka terhadap perubahan, termasuk mempertimbangkan peran teknologi yang sudah melekat di kehidupan kita sehari-hari.

Ruang kreatif perlu memfasilitasi dan memungkinkan pembangunan kolaboratif/desentralisasi oleh budaya akar rumput, membangun ruang bersama yang adil dan setara, serta membangun ekosistem agar kreativitas masyarakat dapat berkembang.

Komodifikasi budaya telah mereduksi ekspresi budaya menjadi barang dagang. Diperlukan komitmen dan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemanjuan kebudayaan.  Kongres Kebudayaan Indonesia 2023 turut merekomendasikan Indonesia memerlukan suatu badan amatan pemajuan kebudayaan yang memantau, mengkaji perubahan budaya, dan merumuskan kebijakan dengan pendekatan holistik dan multidisiplin (Sinaga, 2023).

Strategi budaya di ranah lokal perlu menyeimbangkan kewirausahaan dengan analisis berbasis kebutuhan, untuk mencari diferensiasi lokal yang 'autentik', dan memulihkan dimensi kegembiraan (Duxbury dan Murray, 2010). Bukan hanya sebagai pengalaman konsumsi dan produksi komersial yang dapat disajikan maupun hanya diperjualbelikan, melainkan ekspresi kreativitas, proses pengetahuan dan penemuan kembali identitas budaya. 

Tentu saja upaya menjalin relasi dan berkolaborasi dalam upaya pemajuan kebudayaan  dan pembentukan identitas budaya tidak terbatas dalam ruang fisik. Karena setiap orang sejatinya adalah pencipta kebudayaan. 

Gendra Wisnu Buana

Artikel ini telah dimuat dalam buku 35 Catatan Refleksi untuk Negeri. Sebuah kumpulan tulisan para pemimpin muda yang tergabung dalam program Tri-Sector Leadership Bootcamp #4, Institut Harkat Negeri.




Comments (0)

No Comment
You need to submit a comment to interact.
logo

Jl. Siwalan 2 No.1, RT 04 RW 07, Kraton, Tegal Barat, Kota Tegal
Whatsapp : +62 819-1152-4182|Kak Gendra
Email : office@spasicreative.space