Sepilihan Puisi A. Mussabbih

A.Musabbih
Jumat, 18 Oktober 2024

Peta Kecil
Kepada seorang Bapak

Masih aku simpan kertas

yang penuh gurat tangis

Ketika Ayah menggambarkan

sebuah jalan syarat rintangan

“Laki-laki adalah kapten sejati

pandai memainkan kendali

Walau ombak menerjang

dan kapal bergoyang-goyang”
 

Begitu pesan Ayah singkat

sangat mendalam dan melekat

Kepada seorang anak yang diharapkan

menjadi kebanggaan

Masih aku simpan kertas

yang penuh gurat tangis

Ketika Ayah mengajarkan

Cara menempuh sebuah jalan

2024

***

Menerbangkan Layang-layang
Untuk anak-anakku di meja kelas


Menerbangkan layang-layang

tidak hanya membutuhkan tempat lapang

Seperti dalam menuntut ilmu

kita butuh imajinasi yang mampu

menembus ruang dan waktu

Saat kita terbangkan cita-cita

akan ada angin menggoda;

yang menjelma badai

yang hanya sepoi-sepoi

Kita harus kokoh memegang

dan mahir menarik ulur benang

agar layang-layang tidak putus

juga agar tidak mudah tertiup arus

2024

***

Terima Kasih Kata-kata


Kau menyukai gang yang memanjang

Dan berujung kenangan

Daripada jalan raya

Yang berpura-pura

Akan mengantar ke masa depan

Kau membenci hari-hari tanpa sepi

Saat keramaian menawarkan kesepian
 

Kau merindukan angan-angan masa kecil

Yang kini diam-diam membesar dan menakutkan

Sedangkan di luar itu semua

Kau masuk ke kalbu dan memilih kata

Daripada lidah yang selalu ingin berkata-kata

2024

***

Menjadi Sungai

 

Berangkat dari hulu, tempat muasal rindu

Berakhir di hilir, tempat lahir orang pesisir

Aku mengembara menyusuri desa-desa

    Menuju muara

Tidak ada yang aku sesali

meski selalu ada limbah menghampiri

sebab Tuhan maha tahu

mana cinta yang murni

     Aku memang hanya sungai

yang cuma bisa mengalir

tapi aku bisa juga mengundang banjir

terutama jika kau menolak takdir

2024

***

Meneladani Hidup Petani

 

Pada sepiring nasi

Terpendam sebuah narasi

Tentang kehidupan para petani

Tapi kita terlalu sibuk mengurus perut

Sehingga luput pada kristal keringat

yang memadat di butir-butir nasi hangat

Seperti juga hamparan hijau sawah

yang menjadi pemadangan indah

ketika kita sedang berjalan ke suatu arah

Mengapa kita tidak peduli

Pada lumpur yang melumat kaki para petani

Mengapa kita menutup mata

Pada lakunya yang selalu sederhana

Tanpa banyak kata mereka telah berjasa

Tanpa banyak tingkah pola mereka telah bekerja

Menanam, menuai, sepenuh jiwa dan raga 

2024 

***

Pengangkut Sampah

 

di rumah

ada bak sampah

di sekolah

ada bak sampah
 

di pasar

ada bak sampah
 

di kantor

ada bak sampah

di masjid

ada bak sampah
 

di rumah sakit

ada bak sampah

di istana

ada bak sampah

Terima kasih

Bapak pengangkut sampah

2024

***

Malam Ini Kita Cahaya

 

Malam ini kita cahaya

di lampu anak-anak yang mengerjakan ilmu

di mata guru-guru yang menyalakan buku

Malam ini kita cahaya

di sayap-sayap laron yang rindu

di lengkung bulan yang sedang dilupakan

Malam ini kita cahaya

di status WA

saat puisi ditulis dengan tulus

Malam ini kita cahaya

di balik degup dada

yang ingin bersembunyi

Ke dalam lambang kata-kata

2024

 ***

Purnama di Beranda

 

Saat bulan bundar tiba di beranda

Aku segera menghambur keluar dan beradu cerita

Bersama teman, saudara, juga tetangga

Cahaya putih itu tumpah ruah, cerah

Antara langit dan tanah

Sungguh indah

Hingga aku lupa esok harus sekolah

Dan di kelas terkadang masih terngiang pertanyaan

Apakah aku bisa menjadi bulan bundar

Bagi orang-orang yang ingin terus belajar

2024

***

Pohon Jambu di depan Rumah

 

Aku masih ingat pohon jambu itu

Selalu menjadi peneduh saat kita jatuh

Aku masih ingat pohon jambu itu

Membuat kita lupa saat waktu makan tiba

Aku masih ingat pohon jambu itu

Membuat kita menangis saat rumah dijual ahli waris

Aku masih ingat pohon jambu itu

Dahannya bagai tangan yang sedang berdoa

Aku masih ingat pohon jambu itu

Tempat kita menulis janji menjadi sahabat sejati

2024

***
 

Menggambar Rumah

 

Entah mengapa aku selalu ingin menggambar rumah

yang memiliki halaman lapang

di depan dan di belakang

Aku ingin mengundang banyak teman

bermain sepanjang liburan

tanpa ada gangguan

Bermain petak umpet

Bermain jamuran

Bermain gundu

Bermain bentengan

Sampai siang datang

dan kita semua pulang

untuk istirahat dan makan

lalu saat tiba sore hari

kita berkumpul kembali

Rumah yang dikelilingi halaman lapang

adalah rumah impian yang harus diperjuangkan

agar anak-anak dapat bermain

dan tidak bergantung pada game online  

2024

***


Biodata Singkat Penulis 

A. Musabbih, kelahiran Tegal 09 September 1986. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Buku puisinya berjudul Surat Sore Hari (Penerbit Lotus, 2023), Arsip Rindu (Prabu21, Malang 2021) Sajadah Katulistiwa (Penerbit Wadahkata, 2021). Meraih Anugerah Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2023, kategori buku puisi terbaik.

 




Comments (0)

No Comment
You need to submit a comment to interact.
logo

Jl. Siwalan 2 No.1, RT 04 RW 07, Kraton, Tegal Barat, Kota Tegal
Whatsapp : +62 819-1152-4182|Kak Gendra
Email : office@spasicreative.space